Saya baru selesai mengeditori buku yang ditulis oleh Elnino ini. Siapa Elnino? Seorang pria Gorontalo dengan tinggi badan sekitar 163, berkulit gelap, ramah, mudah tersenyum, humoris, kalkulatif, sarkas, politisi, dia mantan anggota DPD-RI yang kini tengah menjalani tugas sebagai anggota DPR-RI di periode keduanya.
Ya, di sela aktivitas sebagai advokat, saya tetaplah seorang pemilik penerbitan buku ( Sabua Buku ) yang masih menangani sendiri naskah-naskah kerja sama yang masuk antrian terbit, baik sebagai editor maupun layouter dan kadang-kadang juga merancang sendiri cover buku tertentu. Buku ini, salah satunya.
Untuk urusan teks, tak terlalu sulit karena Elnino sejatinya adalah seorang penulis. Dia cermat dalam berbahasa. Sebagian dari dirinya adalah wartawan. Sehingga saya hanya melakukan sedikit sentuhan untuk membuat autobiografi ini menjadi romantik, nge-pop, dan dapat pergi menyentuh pembaca dengan hangat.
Buku ini tipis. Dari cetakan dummy-nya Anda bisa lihat. Tidak tebal, hanya 103 halaman. Berukuran 12 x 18 cm.
Ada banyak detail yang mungkin terlewatkan. Beberapa karena lupa, atau malah luput dari mapping saya. Karena itu saya merancangnya agar bisa dikembangkan lagi di kemudian hari.
Cukup sulit bagi saya memahami Elnino. Ada banyak dimensi. Tapi saya bersyukur saat kami duduk berdua, saya merasa dia hadir seutuhnya untuk percakapan kami tentang buku ini. Elnino membuang segala beban lelah pekerjaannya. Dia tampak segar dan matanya berbinar. Saya menangkap momen itu saat kami berbincang dua topik. Pertama, ketika dia bicara tentang kedua orangtuanya; kedua, ketika dia bicara tentang pertemuannya dengan sang istri, Dr. Umin Kango.
Elino memang manusia politik. Dia politikus. Kita tahu, para politikus yang pintar, culas, dan kuat akan dengan cepat merebut kekuasaan dari orang yang lemah, tolol dan bodoh. Namun makna politik yang peyoratif itu justru mau dia rehabilitasi. Saya bilang, omong kosong! “Mau direhabilitasi dengan apa?” tanya saya. Elnino menjawab: politik silaturrahim. Pergi ke kampung-kampung, ke rumah-rumah, mengetok pintu, menyalami orang-orang dan memberi mereka tatapan optimis, menceritakan kepada mereka pandangan hidup orang Gorontalo dan bagaimana kebijaksanaan politik di masa lalu. Betapa nilai-nilai itu tak layak ditukar guling dengan politik uang.
Jawaban yang panjang, pikir saya, dan tentu saja gerakan etis-esoterik demikian tak semudah mengunyah kacang goreng. Tapi saya kira dia punya sikap yang amat berharga dan layak untuk dititipi harapan banyak orang. Saya kira itulah yang membedakannya dengan politikus kebanyakan.
Tak banyak yang dapat saya janjikan dalam buku ini. Saya menyuntikkan sejumput dosis konteks agar pembaca tak kehilangan suasana. Selebihnya saya biarkan berbunyi sebagaimana mestinya. Sebab, meskipun telah saya editori, namun dasar manusia jurnalistik, Elnino tetap bertindak pada finishing akhir sebelum di-layout. Tentu saja saya gembira. Sebab itu menunjukkan menulis masih menjadi bagian penting dalam dirinya.
Oleh : Susanto Polamolo




