Pesta pernikahan megah, tapi tidak bahagia. Ada yg begitu di sekitar kita. Ada yg perayaan pernikahannya sangat sederhana, tapi mereka happy ever after.
Sepanjang hidup kita masing2, kita tentu pernah melihat pasangan suami-istri yg bahagia, ceria lahir bathin. Keluarga yg asyik. Di antara pasangan yg happy itu ada yg fakir, ada yg miskin, ada yg kaya, ada yg sedang2 saja. Di dunia mereka masing2 yg penuh duka dan suka, mereka bahagia.
Kamu ingin bahagia setelah berkeluarga? Sungguh, bukan kesederhanaan maupun kemegahan pesta pernikahan yang menentukan, tapi cinta yg hakiki antara kalian berdua itulah yg akan membuatmu menikmati dunia…bahkan akhirat.
Begini Waktu Elnino Menikah
Sewaktu Elnino bertekad menikah, uang di tabungannya hanya 3 juta. Biaya pesta di tahun 2002 itu umumnya minimal Rp. 25 juta.
Tapi Elnino bukanlah orang yang percaya terhadap “kuasa uang”. Dia meyakini, haqqul yaqin, hanya “Kuasa Allah”. Background kehidupan sejak kecil yang membuatnya begitu.
Sampai akhirnya dilamarlah seorang gadis. Umin Kango namanya. Masih kuliah, belum sarjana. Alhamdulillah diterima tanpa syarat apa pun, kecuali yang wajib saja.
Sebagian ibu karlota yg mulutnya tak berkontrol menebarkan gosip fitnah. “Ti Umin ini ada kase kuliah… Blum kelar kuliah bo so mo kawin… Laki2 tidak punya ongkos pula…. Ja odoyi… Tetap dorang kase kawin… Tantu so cilaka,” bisik2 di antara mereka.

Ketika Elnino mengedarkan undangan yg hanya dalam bentuk kertas koran (kertas paling murah saat itu–red), ada saja yg mempersoalkan. Ada yg bilang, “Ini orang mau nikah tapi tidak serius, undangannya saja bo asal2an.” Sampai ada yg berkata, “Miskin tapi baraba ini te Elnino. Masa torang dia hargai hanya dengan undangan kertas koran begini.”
Menikah tak harus mahal. Kenapa harus mahal kalau yang sederhana saja bikin kita bahagia lahir batin..
Ada saja ujian2 psikologis dan mental saat mau menikah. Untunglah Elnino bisa cuek, santai, tak menggubris isu apa pun. Dari remaja sudah ditempa dengan segala kerasnya kehidupan di Jakarta dan Bandung yang penuh fitnah dan perhinaan, Elnino tidak lagi merasa sakit saat difitnah seperti ini.
Untung pula calon istrinya, Umin Kango, bisa tegar karena dia memang dalam kebenaran. Toh, mereka2 yg bergosip itu akan teriris dgn tajamnya lidah mereka sendiri.
Tanggal 27 Oktober 2002 akhirnya mereka diakad di Desa Mamungaa, tempat tak bersignal. Acara akad yg sederhana tapi penuh hikmah.
30 Oktober 2002, tepat di ultah Elnino ke 28, resepsi diadakan di Aula SKB Kota Gorontalo. Para sahabatnya ramai datang. Keluarga mereka berdua pun ramai luar biasa.
Karena pengalaman pribadi ini, Elnino selalu sampaikan kepada para jomblo sahabatnya bahwa “Kalau tekad sudah penuh, Allah pasti bantu, selama engkau menyerah padaNya.”




