Penampilan Gibran dalam debat cawapres malam ini benar-benar membuat orang mengernyitkan dahi. Sebuah pertunjukan yang menjungkirbalikkan segala keraguan. Dengan gaya santai anak muda yang cool, tapi isinya? Jangan ditanya, Gibran punya itu semua.
Sedangkan Cak Imin, tampaknya kurang greget. Dalam membawakan “slepetnomics” dengan sarungnya, terlihat kurang fokus. Visi dan misinya samar, bahkan saat ditanya pun, ia malah jadi ‘jubir’ Gibran. Cak Imin sepertinya terlalu meremehkan lawan, dengan diplomasi yang lebih mirip ‘menylepet’ para duta besar.
Penampilan Cak Imin dinilai buruk, hanya meraih skor 6. Sementara itu, Gibran sukses mengguncang anggapan orang bahwa ia takut berdebat. Dengan pengalaman sebagai walikota Solo, ia menguasai substansi dengan percaya diri, tetap humble, dan tetap simpatik. Ide-ide tentang pembangunan, keberlanjutan, dan banyak lagi disampaikan dengan lancar dan logis. Gibran jelas menjadi pemenang dengan skor 9.
Pak Mahfud, sebagai tokoh senior, malah terlihat kedodoran. Pernyataan pembukaannya out of topic, respon terlalu panjang, dan blunder dalam kritik terhadap duta besar. Bahkan saat ditanya tentang regulasi carbon captured, ia tak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Seakan-akan Pak Mahfud kurang menguasai isu ekonomi dan perdagangan.
Jadi, pemenangnya jelas: Gibran dengan gaya santai dan isian yang mantap. Disusul oleh Pak Mahfud yang kurang konsisten, dan Cak Imin yang kurang greget. Demikian hasil debat kedua malam ini.





