Dalam politik pemilihan, rakyat menginginkan figur yang hampir seperti malaikat, bukan sekadar manusia biasa. Begitu seseorang terpilih sebagai caleg, dia diharapkan oleh masyarakat untuk menjadi seperti malaikat itu.
Seorang caleg diharapkan oleh masyarakat untuk memenuhi dua tuntutan sekaligus: mendapatkan suara mereka dan bekerja dengan penuh pengabdian. Tidak mudah untuk bisa melakukan keduanya dengan baik.
Menjadi seorang caleg berarti harus siap menerima kritik dari masyarakat dan juga mendengarkan keluhan mereka tanpa henti. Siapa yang sanggup menghadapi tantangan tersebut?
Jika seseorang memutuskan untuk menjadi caleg, itu artinya dia telah mengorbankan banyak hal:
- Waktunya,
- Pikirannya,
- Tenaganya,
- Dananya,
- Bahkan rasa malunya.
Terakhir, yang paling sulit adalah setelah Pemilu, khususnya saat mengalami kekalahan. Tim suksesnya sendiri bisa berkomentar dengan pedas, apalagi tim sukses lawan.
Singkatnya, seorang caleg sering kali merasa seperti “tempat sampah” di mana segala omelan dan cercaan dialamatkan kepadanya. Orang-orang tidak terlalu memedulikan apakah itu bagian dari tugas seorang legislator atau tidak. Yang penting, omel dulu, pikir orang-orang.
Jadi, seberapa besar pengorbanan seseorang menjadi caleg, baik untuk dirinya sendiri, partainya, atau calon presidennya, lalu datanglah seseorang yang meminta didukung sebagai calon dalam Pilkada. Berapa banyak pengorbanan “rasa malu” yang harus dia ganti? Setidaknya ada lima hal yang perlu dia pikirkan.
Kesimpulannya, menjadi caleg bukanlah pekerjaan yang mudah. Itu membutuhkan ketahanan yang besar, tidak hanya untuk menerima kritik tetapi juga untuk terus berjuang demi kebaikan masyarakat.



