Tanggal 14 Maret 2009, masa kampanye Pemilu Legislatif dimulai. Lapangan di setiap desa ramai setiap hari. Ditambah lagi dengan kampanye dialogis yang dilakukan di tempat-tempat tertentu.
Mungkin hanya Elnino yang tidak berencana berkampanye yang ramai begitu. Ongkosnya tinggi. Mana punya duit dia…. Elnino dan kawan-kawannya hanya berkeliling sambil mampir di kerumunan- kerumunan massa kampanye dari partai mana pun. Di setiap kerumunan massa itu, mereka mengedarkan lembaran-lembaran kertas kampanye berupa leaflet berisi biodata Elnino.
Sebagian orang menjadi tertarik dengan Elnino setelah membaca kertas-kertas kampanye itu. Tapi sebagian lain malah menghina Elnino maupun sahabatnya yang mengedarkan kertas tersebut.
“Bilang pa te Elnino… Mo maju ode DPD harus pake doyi….ja bo me tupo lo kartasi botiy, hahaha,” begitu kata seorang warga di Bonepantai sambil merobek kertas biodata Elnino yang dia terima. Orang itu rupanya tidak tahu, bahwa yang memberikan kertas itu kepadanya adalah Elnino sendiri.
Sahabat Elnino, Semly Taruklabi, yang juga ikut membagi-bagikan kertas tersebut disapa oleh orang yang sama. “Wei…te Elnino so kase doyi barapa ngoni ini babajalang bagini (bagi-bagi kertas)?!! Wawu yang mana te Elnino ini?! Suru datang kamari dulu dia…!!”. Dengan santai, Semly menunjuk ke Elnino yang sedang membagikan leaflet ke orang lain, “Sana te Elnino… Tadi so bakudapa to?”.


