Siapa te Elnino?

Ketika namanya dibahas berbagai media lokal maupun nasional sebagai orang yang memenangkan Pemilu tanpa money politics, tanpa pelanggaran, bahkan dengan alat kampanye yang minim, tahun 2009, begitu banyak orang yang bertanya-tanya siapa sebenarnya Elnino. Hanya pemilihnya yang mungkin bisa menjawab pertanyaan itu, dan itu tidak lebih dari 9 persen dari seluruh pemilih di Gorontalo.

Siapa Elnino, anak siapa dia, darimana dia berasal, lingkungan seperti apa yang membuatnya bisa begitu fenomenal; keluarganya, isterinya, desa tempat dia dibesarkan, dll. Masih banyak yang bertanya-tanya, bahkan sebagian besar elit politik lokal pun penasaran. Karena itu, dalam buku kecil ini kami menuliskan sebaik yang kami mampu untuk berkisah singkat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan demikian itu.

Mustapa Mohi

Dua anak umur 13 tahun dan 11 tahun itu tak henti-hentinya membaca Surah Yasin, 12 Juni 1989. Mereka adalah Elnino dan Rahmad Katon Mohi. Kakak-kakak mereka berlinang air mata, satu per satu menghadap sang ayahanda yang sedang sekarat, memohon maaf dan mengucapkan terimakasih. Mustapa Mohi telah lama terbaring sakit. Tubuh rentanya tak lagi sanggup digerakkan. Tapi dia masih tersenyum.

“Maa ilambunguwa’u timongoli nga’mila… Wawu ambunguwa ma’o li mongoli wa’u… Maatiya Eeya’u mohama ola’u… (sudah kumaafkan kalian semua… dan mohon kalian maafkan aku… Sebentar lagi Tuhanku akan menjemputku)”, terbata-bata Mustapa Mohi. Lalu dia berbisik sebentar kepada isterinya, Hadjari I. Lebi. Tak berselang lama kemudian, “Laa ilaaha illa Allah…”, suaranya pelan. Tiga tarikan nafas berlalu, Mustapa Mohi tinggallah raga. Senyum masih ada di bibirnya….

Suasana di Jln. Barito No. 38 penuh isak tangis. Tetapi isteri dan anak-anak almarhum Mustapa Mohi nyaris tak mengeluarkan suara sama sekali, hanya tubuh mereka yang gemetar. Tampaknya mereka begitu kuat menerima kenyataan, walaupun pada faktanya hati mereka sedih bukan main-main. Semasa hidupnya, Mustapa Mohi selalu melarang orang menangis sambil bersuara jikalau ditinggal mati orang terkasih. Mereka sadar, jikalau tangis mereka sampai kedengaran, pasti almarhum marah besar.

Selama 63 tahun hidupnya, Mustapa Mohi telah mengalami berbagai lika-liku kehidupan. Terlahir, 20 Agustus 1927, sebagai anak sulung dari 6 bersaudara, Roki – begitu nama kecilnya beroleh beban yang berat sejak masa kecilnya. Katrina Mohi, bapaknya, adalah saudagar kecil (semacam pedagang kelontong/cabo), mendatangi pasar-pasar di Telaga hingga Tabila’a (Bolmong). Dia membangun rumah di Olele, Oluhuta.

Mustapa Mohi saat menikahi Hadjari Ismail Lebie pada tahun 1972

Oleh bapaknya, Roki kecil ditugasi untuk membantu menghidupi ibu dan adik-adiknya dengan membuka kebun, serta memelihara sapi dan kambing milik keluarga. Dan…ini yang penting; Roki dilarang sekolah. Keinginannya yang besar untuk sekolah akhirnya membuat dia berontak dari bapaknya, dan memutuskan untuk tinggal bersama pamannya, Bapak Yunus Latif, di Telaga, yang juga seorang guru. Dia disekolahkan oleh sang paman. Pak Guru Yunus Latif kemudian dikenal sebagai Temey Roki, dan dikenal juga sebagai Pak Guru Roki. (Catatan: Dalam tradisi Gorontalo, ada yang disebut dengan “toli”, yaitu menyebut nama seorang tokoh dengan menggunakan nama keponakannya).

Singkat cerita, Roki atau Mustapa Mohi berhasil menamatkan sekolahnya lalu menjadi guru. Dia juga sempat mengajak adik laki-lakinya, Abubakar Mohi ke Telaga untuk sekolah, dan kemudian juga menjadi guru.

Selain merintis pendirian beberapa sekolah SD di Telaga, Bonepantai, Tapa dan Suwawa, Mustapa Mohi juga ikut dalam Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) pimpinan KH. Abas Rauf (Kaali Abasi), partai politik yang sangat kuat di Gorontalo pada Pemilu 1977 selain Golkar. Dia sempat menjadi anggota DPRD saat itu.

Mustapa Mohi juga merupakan anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) karena keikutsertaannya dalam perjuangan yang dipimpin oleh Bapak Nani Wartabone (Temey Jonu) menghadapi beberapa pemberontakan terhadap NKRI.

Dia juga merupakan bisnisman yang cukup gigih, mengembangkan usaha perkebunan kopra, kapur, dan angkutan umum bendi, serta membangun beberapa koperasi yang kuat dan bermanfaat bagi para anggotanya.

Ketika ada kebijakan dari pusat bahwa PNS tidak dibolehkan untuk ikut partai politik, Mustapa Mohi terpaksa meninggalkan PSII (yang telah dilebur dengan Masyumi dan PNU menjadi PPP). Dia memilih berkarir sebagai guru dan PNS, anggota Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri). Ketika itu, Korpri diwajibkan berafiliasi kepada Golongan Karya (yang saat itu mengaku bukan sebagai parpol, tetapi “hanya” sebagai sebuah golongan walaupun kekuatan politiknya lebih besar daripada parpol).

Pensiun dari jabatan terakhirnya sebagai Kepala Cabang Dinas PDK Tapa, Mustapa Mohi menikmati sisa hidupnya dengan menyibukkan diri mengurus kebun di sekitar rumahnya.

Selama hidupnya, Mustapa Mohi alias Roki, menikah tiga kali dan dianugerahi 8 orang anak dari ketiga isterinya tersebut. Patut dicatat bahwa Mustapa Mohi tidak berpoligami, dia menikah lagi setelah isterinya meninggal dunia.

Mustapa Mohi, sejak 1979, telah menyiapkan batu nisan bertuliskan namanya sendiri, kain kafan dan benda-benda yang diperlukan untuk upacara kematiannya, walaupun dia meninggal sepuluh tahun kemudian. Itu adalah tradisi yang dilakukan oleh para orang tua di Gorontalo untuk mengingatkan diri sendiri akan kematian yang pasti akan dialami. Mustapa sangat menyadari bahwa yang pasti di masa depan hanyalah mati dan kenangan.

Hadjari Ismail Lebie

Mei 1992. Sebentar lagi libur sekolah. Elnino yang baru saja menjadi juara kelas di SMA 81 Labschool, Jakarta Timur, bersiap-siap untuk magang kerja di salah satu perusahaan Fried Chicken untuk mengisi liburan panjangnya sebelum naik ke kelas 3. Tiba-tiba di Asrama Mahasiswa Gorontalo—Salemba Tengah, tempat dia tinggal, Elnino menerima telegram dari Gorontalo. Isinya singkat, “NINOLIBURPULANG-MAMATUNGGU”.

Elnino berpikir, daripada pulang kampung yang justru mengeluarkan uang, sementara sang mama sendiri sedang kesulitan, maka lebih baik dia cari duit sambil kerja magang. “NINOTIDAKPULANG-KOMAMAGANGCARIUANG”, dia membalas telegram. Malamnya, sang mama menelpon dari wartel, meminta anaknya agar segera pulang, mumpung libur. Tapi anak itu keras kepala. Dia ngotot kerja magang di Jakarta daripada pulang kampung mengisi liburan. Berulang kali ibunya membujuk sampai menangis, Elnino tidak bergeming. Dia benar-benar ingin kerja magang.

Hadjari Ismail Lebie (Sus Jari)

Esok paginya, setelah sholat Subuh, Elnino kehilangan kesadaran dirinya. Ketika dia sadar, dia sudah berada di atas Kapal Motor Kambuna yang telah melempar sauh, menuju pelabuhan Bitung. Elnino bingung, karena ini adalah kejadian teraneh selama hidupnya. Dia tiba-tiba sudah berada di atas kapal, dan ternyata di kantongnya sudah terselip tiket Jakarta-Bitung. Seperti mimpi. Kenapa bisa begini? Darimana tiket itu? Karena sudah terlanjur, walau masih bingung, dia memutuskan melanjutkan perjalanan hingga ke Bitung, lalu naik bis ke Gorontalo.

Tiba di depan pintu rumahnya di Gorontalo jam 05.00 subuh, 19 Juni 1992. Mamanya terharu memeluk sekuat-kuatnya si anak yang telah dua tahun tak bertemu. Segala rindu kasih ibu tertumpah. Sejak pagi itu hingga seharian penuh mereka berdua bercerita banyak hal. Masing-masing mencurahkan keluh kesah dan kisah suka-duka selama dua tahun berpisah.

Tak disangka, keesokan harinya, Hadjari Lebie, sang ibu meninggal dunia. Stroke menyerangnya, dan tak dapat diselamatkan lagi di RSAS. Masyarakat di Tapa, Kota Bagian Utara, Kabila dan seluruh keluarga kaget. Sebab, Sus Jari—demikian almarhumah disapa—tidak punya tanda-tanda sakit sama sekali. Perawat yang dikenal murah hati dan murah senyum itu masih beraktifitas seperti biasa di hari-hari sebelumnya.

Prosesi pemakaman Almarhumah Hadjari Ismail Lebie

Shock dan sedih yang tiada tara di hati anak-anaknya. Apalagi Elnino. Baru saja sehari dia sempat berbagi cerita dengan sang mama, anak umur 16 tahun itu sudah harus menerima kenyataan; ibunya wafat dan takkan pernah lagi bertemu di dunia ini. Rasa sedih yang mesti dia pendam dalam-dalam. Saking kuatnya dia memendam penyesalannya, ekspresi wajah Elnino sangat datar. Hampa. Matanya pun tak berlinang, seakan tidak terjadi apa-apa. Seakan yang ada di kesadarannya adalah ibunya masih hidup. Barulah setelah tiga hari sejak kematian sang mama, Elnino menangis di setiap sujudnya ketika sholat, seringkali sholatnya batal karena terlalu lama menangis dalam sujud… tak bisa bangkit. Bagi Elnino, tiada hal yang paling menyedihkan selain kehilangan orang yang dicintai dan mencintainya, apalagi yang pergi selamanya itu adalah seorang ibu. Tapi kesedihan itu tidak membuat anak kelas 2 SMA itu putus asa.

Singkat cerita… Setelah tiba kembali di Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya, barulah Elnino mendengar cerita dari Ipun Gibran, sahabatnya yang tinggal di asrama mahasiswa Gorontalo di Salemba Tengah. “Waktu ngana berangkat ke Gorontalo, Nino, ngana kase bangun pa kita deng te Ais (Luneto). Ngana bapinjam doyi pa te Ais mo bili akang tiket kapal. Torang dua yang pigi di pelabuhan pi bili tiket, kita yang bantu pa ente ba antri tiket. Bo…memang kita liat ngana waktu itu macam stengah-stengah sadar…” kisah Ipun.

Elnino baru tahu, bahwa ketika itu memang dia bersikukuh untuk tidak pulang kampung. Tetapi semua yang dilakukannya hingga berada di atas kapal itu dia lakukan tanpa kesadaran sama sekali. Doa ibunyalah yang menarik ruh dan tubuhnya untuk kembali ke Gorontalo tanpa sadar. Panggilan ibunyalah yang menuntunnya—seperti dihipnotis—untuk meminjam uang, pergi ke pelabuhan, membeli tiket, hingga naik kapal. Sebab… “Mama saya ingin saya berada di sampingnya ketika beliau meninggal,” kenang Elnino.

Hadjari I. Lebi adalah anak keempat dari pasangan Ismail Lebi dan Hanani Kaluku. Di antara 6 bersaudara, Hadjari adalah yang paling tinggi sekolahnya sehingga berhasil menjadi abdi negara sebagai perawat/suster.

Dikenal sebagai perawat yang pendiam, ramah, Hadjari juga senantiasa tulus membantu orang yang kesulitan. Suatu ketika, misalnya, dari Talulobutu, Tapa, datanglah jam 12.00 malam seorang bapak yang bersepeda ke rumah Sus Jari. Dia minta tolong agar anaknya yang sedang panas tinggi diobati. Malam itu juga Sus Jari minta ditemani Elnino ke Talulobutu, bersepeda dari Bulotadaa.
Rumah yang dituju rupanya adalah gubuk kecil berdinding pitate. Mereka pasti orang susah. Setelah menyuntik dan memberi obat untuk si anak yang sakit, Sus Jari menyelipkan selembar Rp. 500 (lumayan bermakna di tahun 1987) di plastik pembungkus obat. Dia lalu menunggui dua jam hingga anak itu turun panasnya, tentu saja sambil ngobrol dengan tuan rumah. “Setelah yakin anak itu akan segera sembuh, kami pamit pulang, dan mama saya menolak dengan halus pemberian dari tuan rumah,” kenang Elnino.

Sus Jari bersama para perawat di Puskesmas Wongkaditi

Salah satu prinsip dari ibunya, kata Elnino, lebih baik memberi kepada yang membutuhkan sesuai kemampuan ketimbang meminjamkan uang yang dia sulit untuk mengembalikan. “Dan hingga hari ini, prinsip itu saya rasa sangat benar. Pernah saya melanggar pesan mama itu. Saya meminjamkan sejumlah uang kepada seorang kawan yang memerlukan… Dan ternyata saya capek untuk menagihnya, hahaha. Jadi, lebih baik diikhlaskan saja…minimal dapat pahala…,” tutur Elnino.

Reputasi Hadjari I. Lebi yang sangat disayangi berbagai kalangan yang mengenalnya benar-benar terlihat ketika jasad beliau dikuburkan di Desa Ayula Selatan. Ribuan orang datang melayat, ribuan orang ikut mendoakan almarhumah, seakan-akan almarhumah adalah tokoh besar. Segala sesuatu dari Allah, segala sesuatu kembali kepada Allah….

Nama Panggilannya Banyak

Bapaknya menamainya Syaiful Mohi ketika lahir. Karena sakit-sakitan, sesuai tradisi, namanya diganti jadi Ramadhan Mohi. Dan dengan alasan yang sama, diganti lagi menjadi Husain Mohi. Yang tidak diubah hanyalah nama panggilannya; Elnino. Nama yang diambil dari badai El-Nino yang melanda Philipina—saat sang anak lahir, terjadi dutalo (badai) di Gorontalo yang merupakan efek dari badai El-Nino. Badai yang cukup kuat itu menumbangkan pohon-pohon besar di Desa Ayula, Tapa, tempat kelahiran Husain Mohi alias Elnino.

Elnino Mohi, 1984

Mustapa Mohi menyapa anaknya dengan Kunino (tampaknya merupakan plesetan dari Nino-ku). Tetapi karena sang ibu sangat ingin punya anak perempuan, maka hanya nama perempuanlah yang dipakainya untuk memanggil sang anak ; Nining. Tak heran jika keluarga Elnino di pihak ibu dan juga para tetangga di Tapa dan sekitar memanggilnya “Nining” sementara keluarga di pihak bapak—di desa Luhu dan Sipatana—memanggilnya “Nino”. Terkadang pula bapak dan kakak-kakaknya memanggilnya “Baijo” atau “Bajo” karena legamnya kulit dan lincah tubuhnya bergerak.

Di umurnya yang keempat, Elnino memberi tanda sebagai ‘anak yang aneh’. Dia sudah bisa membaca dengan sangat baik walaupun ada kata-kata yang tidak dia mengerti. Gurunya di TK Beringin Ayula, Ibu Dince, sering memperlakukannya secara khusus karena perbedaannya dengan anak-anak lainnya.

Bakatnya bukan hanya itu. Elnino kecil, alias Nining, alias Kunino, juga menunjukkan kemampuannya menyanyi yang istimewa. Bahkan dia pun sangat lincah dalam permainan fisik.

Bertugas sebagai penceramah Isra’ Mi’rajdi SDN 2 Ayula, 1985

Ketika masuk ke kelas 1 SDN II Ayula, Elnino telah menamatkan membaca Al-Quran di Taman Pengajian Attaubah asuhan Bapak Muchtar Maku (Pasisa Riko). Nilai-nilainya di sekolah nyaris sempurna. Raportnya dipenuhi oleh angka “10” hingga kelas 3 SD—suatu nilai yang “sangat terpaksa” diberikan oleh para guru karena sebetulnya nilai “10” tidak dibenarkan masuk Raport. Tetapi bagaimana mungkin tidak ditaruh angka “10” sementara Elnino tidak punya sedikit pun kesalahan dalam setiap ulangan dan ujian? Barulah di kelas 4, Elnino memiliki nilai tertinggi “9” sebab para guru beroleh peringatan dari Mustapa Mohi, bapaknya, yang merupakan senior dari para guru tersebut. “Anak saya bukan anak yang sempurna, jadi jangan kasih lagi nilai 10 di raportnya. Dan…jangan sampai dia jadi merasa sama pintar dengan gurunya…,” ungkap Mustapa kepada Kepala SDN 2 Ayula, Jahja P Talib. Sebelum itu, rupanya, Mustapa belum pernah memeriksa raport anaknya, dia sudah puas dengan diberitahu bahwa anaknya beroleh Rangking I.

Sebagai kader Pramuka, Elnino kecil juga mengoleksi penghargaan dari berbagai lomba, dari juara MTQ, juara Morse, juara lintas alam, juara menggambar, hingga juara menyanyi. Anak yang tubuhnya lebih kecil dari kawan sebayanya, lebih hitam kulitnya, tetapi luar biasa bakatnya.

Ketika lulus SD, Elnino atas inisiatifnya sendiri mengganti namanya untuk dituliskan di STTB menjadi Mohamad Husein Mohi. “Saat itu saya setiap hari menonton Dunia Dalam Berita di TVRI bersama bapak saya. Saya jadi pengagum Saddam Hussein yang sering jadi berita. Maka saya berniat mengganti nama saya menjadi Saddam Hussein Mohi. Saya diijinkan oleh bapak saya untuk penggantian nama itu. Di perjalanan ke sekolah, saya ketemu kakak sepupu saya, Salma Rahman. Ta Ama menyarankan agar nama saya menjadi Mohamad Hussein Mohi. Dan jadilah nama Mohamad Husein Mohi di STTB—salah tulis sebetulnya karena huruf “s”-nya cuma satu, tapi terlanjur…jadi saya biarkan saja,” kenang Elnino sambil tersenyum.

Sejak SD, Elnino juga dilatih sang ayah untuk berbisnis. Ketika kelas 2 SD, dia sudah kesana-kemari berjualan rokok, kacang dan es mambo. Karena disiplin bisnis yang cukup keras, setahun kemudian dia sudah punya warung kecil untuk barang-barang harian. Ketika lulus SD, warungnya menjadi cukup besar hingga menjual onderdil sepeda. Warung itu akhirnya bangkrut setelah sang ayah meninggal dunia dan Elnino merantau ke Jakarta.

Di SMPN 6, dia juga menjadi bintang walaupun selama tahun pertama dia berjalan kaki pergi-pulang sekolah. Sering pula dia menumpang sepeda kawannya, tentu saja dengan ‘jasa balik’ mengayuhkan sepeda. Predikat Juara I Umum tak pernah lepas darinya. Di kelas 2 SMPN, ketika adiknya Katon menyusul masuk sekolah itu, mereka beroleh hadiah sebuah sepeda BMX dari sang bapak. Cukup bergengsi ketika itu. Ketika sang bapak meninggal dunia, sepeda itulah yang menjadi penghibur bagi kedua kakak-adik itu agar tidak tenggelam dalam kesedihan.

Kehilangan bapak, Elnino kecil justru semakin menggila dalam belajar. Buku-buku perpustakaan sekolah jadi ‘makanannya’. Dia mempelajari semua yang belum diajarkan oleh guru. Jadinya dia sendiri sering bosan ketika sesuatu yang telah dibacanya masih diajarkan oleh guru di kelas.

Untung saja dia punya hobi lain di rumah; bermain layangan dan sepak bola. Dia direkrut sebagai gelandang kesebelasan AC MILAN milik Alwin Podungge di Sipatana—klub yang cukup disegani di kancah persepakbolaan anak-anak di Kota Gorontalo dan sekitarnya kala itu.