CATATAN ATAS SILATNAS III

Saya memiliki beberapa catatan dalam Silatnas III yang puncaknya digelar tadi malam.

  1. Silaturahim Nasional Masyarakat Gorontalo (pertemuan 100 tokoh) pertama kali dilaksanakan pada 5 Januari 2000. Sebutlah namanya Silatnas I. Saya adalah peserta, sekaligus panitianya.

Waktu itu yg terkumpul hanya 23 tokoh yang menghasilkan pembentukan Presnas P2GTR, yaitu wadah persatuan elemen2 masyarakat di Gorontalo yang ingin mendirikan Provinsi Gorontalo.

(Catatan: Kemudian elemen2 Gorontalo rantau juga bersatu membentuk KP3GTR di Jakarta untuk maksud yg sama, berkolaborasi dengan Presnas).

  1. Silatnas II dilaksanakan Maret 2006 di Jakarta. Yang hadir hampir 500 tokoh, termasuk 200 Kades dari Kabgor, serta hampir 100 tokoh dari Gorontalo, sisanya adalah ratusan tokoh Gorontalo rantau. Sy pun panitia di situ.

Di samping menguatnya rasa kebersamaan ( Gorontalo Connection ), Silatnas II ini juga menghasilkan berbagai ide / konsep yang–walaupun  tidak semuanya–di kemudian hari direalisasikan oleh pemerintah pusat, provinsi dan kab/Kota. Mungkin karena perspektif yg sama, mungkin beda. Yg pasti, jadi juga ide/konsep itu.

  1. Silatnas III dilaksanakan bulan Juni 2021 ini di Gorontalo, dan puncaknya adalah tadi malam. Lagi2, saya jadi panitianya. (Catatan: kira2 setengah dari panitia Silatnas III ini juga merupakan panitia Silatnas II, dan 1/4_nya adalah panitia Silatnas I, II dan III).

Yang sempat hadir fisik tidak banyak, sebagian lewat Zoom termasuk Bang Menteri Sandi. Harap maklum, covid.  Durasi waktu di acara puncak juga sangat mepet. Pak polisi harus mengingatkan berulang2 bahwa acara harus berhenti jam 22.00. Maklum, covid.

Berbagai pikiran ada di sini. Ada yg berbeda, ada yg sama. Yang pasti, semuanya memiliki visi seperti apa Gorontalo yang dia inginkan pada tahun 2045.

Tahun 2045 itu jauh. Tapi semua tokoh peserta Silatnas III ini memiliki semangat yg kuat untuk menelorkan ide2 dan “jalan keluar” atas masalah2. Padahal semua peserta ini sadar bahwa belum tentu dirinya menyaksikan dengan mata kepala sendiri terwujudnya visinya itu. Saya saja, kalau umur panjang (aamiin), sudah berusia 71 tahun. Bagaimana dengan para hadirin lainnya yang lebih senior dari saya?

Intinya, kita tidak lagi punya ambisi pribadi di tahun 2045. Kita hanya ingin memberikan pikiran kita dan semua kapasitas kita secara terbaik, demi kehidupan anak dan cucu kita kelak.

Pikiran dari para tokoh itu digali oleh panitia dalam sebulan ini, baik lewat tulisan ilmiah, via talkshow jarak jauh, wawancara, dan metode lainnya. Di acara puncak tadi malam, tidak sempat lagi rangkumannya dipaparkan karena waktu yg sudah dibatasi hanya sampai jam 22.00.

Panitia berinisiatif untuk membukukan dokumen hasil Silatnas III ini agar menjadi bukti sejarah di masa yang akan datang. Setidaknya anak cucu kita nanti tahu bahwa kakek-neneknya pernah punya visi yang jaraknya 25 tahun. (Catatan: Visi orang Israel bahkan sampai ribuan tahun, China ratusan tahun. Itulah salah satu pondasi kemajuan mereka. Tokoh2nya tidak hanya memiliki visi harian, bulanan, tidak juga tahunan….tapi ratusan tahun).

  1. Tiga kali Silatnas kami laksanakan (2000, 2006, 2021). Tiga kali pula ada kritikan membangun, kritikan solusif, kritikan karena curiga, bahkan ada penolakan atas pelaksanaan Silatnas. Semua itu positif. Kami yakin tidak ada satu pun orang Gorontalo yang tidak ingin Gorontalo maju. Tidak satu pun.
  2. Kawan2….. Sejarah mencatat nama2 orang Gorontalo yg hebat secara nasional. Dulu ada HB Jassin, Jus Badudu, BJ. Habibie, Thaib Gobel. Sekarang ada 3 putra terbaik Gorontalo jadi menteri; Sandiaga Uno, Suharso Monarfa dan Zainuddin Amali.

Tetapi, mereka semua adalah orang2 hebat secara individual. Setelah mereka hebat, barulah kita “klaim” sebagai orang Gorontalo. Ketika mereka sedang berjuang di panggung nasional, kontribusi apa yang kita kasih ke mereka? Selain doa tentu…(kalau doa itu ada).

Provinsi Gorontalo yang hanya berpenduduk 1,2 juta memiliki 3 putra yang dipercaya Presiden RI. Hanya dengan fakta itu saja, Jawa Barat (penduduk 47 juta)  keheranan melihatnya sambil berkata,  “Hebat benar ya Gorontalo….”.

Dalam pikiran saya, mungkin juga pikiran Anda; berjuang secara individual saja kita orang Gorontalo bisa sedahsyat itu, apalagi kalau kita berjuang secara kolektif?

Ya, di situ itu. Persis di situ. Silatnas adalah silaturahim nasional. Silaturahim adalah koneksi. Bila koneksinya kuat, maka akan kolektif. Kekuatan kolektif adalah sebuah sapu yang kuat. Kekuatan individual (merasa jago sendiri) ibarat lidi. Sejago2nya lidi, dia gampang patah.

  1. Tadinya, setelah menghelat Silatnas sampai 2 kali, saya dkk berharap ada yang bisa bikin Silatnas III. Biar kami ikut bakubantu. Kami usulkan ke berbagai kelompok sejak 2006, tapi sampai 2021 tidak ada yang sempat melaksanakannya. Kami maklum, sumberdaya mereka sedang difokuskan untuk kebaikan yang lain, juga demi banyak orang.

Karena itu, Presnas kembali melaksanakan Silatnas III ini dengan niat yg lurus2 saja, menanggalkan warna2 politik, menurunkan ego masing2, saling merendah dan tak merasa benar sendiri. Sebab, semua itu adalah penghalang bersatunya orang Gorontalo.

  1. Salah satu kalimat penutup perjanjian persatuan Uduluwo lo Ulimo lo Pohalaa, 12 Sya’ban 1080 H adalah:  “…didulu wa’u, didulu yi’o, bolo ito.” Terjemahan bebas sesuai konteksnya adalah: “Mulai hari ini dan seterusnya… tak ada aku, tak ada kau… Yang ada hanya kita.”

TERIMAKASIH (ODU’OLO)

Ditulis oleh: Elnino M. Husein Mohi, Ketua Steering Committee SILATNAS III, Wakil Ketum LAMAHU.

Ketua Dewan Pembina The Presnas Center (Prestasi Anak Bangsa = Presnas): Prof. Dr. Ir. H. Nelson Pomalingo, M.Pd.

Anggota SC:
Dr. Masri Kudrat Umar,
Dr. Lilan Dama,
Dr.  Arten Mobonggi,
Dr. Razak H. Umar
Dr. Sumarjo Muna, 
Ir. H. Azan Piola (merangkap Ketua OC),
La Saofu, S.Pd, M.Pd (merangkap Sekretaris OC).

Panitia dibantu oleh ratusan orang, termasuk para PNS di berbagai instansi, sebagian dari Pemda Kabupaten Gorontalo.

Start typing and press Enter to search