Guru Pejuang, Tokoh Desa, Kampung Buku, Rumah Pintar dan DEWIREBU

Oleh : Niswadi Esa, S.Pd
Asisten Elnino M. Husein Mohi, No. Anggota B. 111

Selain tugas-tugas konstitusional mewakili Gorontalo di DPD dan MPR, Elnino M. Husein Mohi juga melakukan kegiatan-kegiatan non-parlementer, yakni kegiatan yang berkaitan dengan urusan publik yang dilaksanakan di luar tugas-tugas sebagai anggota parlemen. Untuk melaksanakan kegiatan ini, Elnino MHM senantiasa dibantu oleh Tim-Sembilan Jaringan Sahabat Elnino (Tim 9 – JSE).

Sumo Foundation

Sejak 2007, Elnino M. Husein Mohi ditunjuk sebagai Perwakilan Suharso Monoarfa (SuMo) Foundation di Gorontalo. Di bawah bendera yayasan tersebut, 2008, Elnino menyelenggarakan pemberian penghargaan “SuMo Award” kepada 42 orang yang mereka sebut sebagai “Guru Pejuang” dan “Tokoh Desa”.

“Guru Pejuang” adalah tenaga pendidik yang mengabdikan dirinya untuk mencerdaskan bangsa secara tulus walaupun dibatasi oleh berbagai kendala. Sementara “Tokoh Desa” adalah mereka yang secara kreatif, inovatif dan tulus membangun bangsa ini dari desanya masing-masing walaupun memiliki berbagai keterbatasan.

Para penerima penghargaan tersebut diharapkan mampu jadi teladan maupun inspirasi untuk membangun peradaban bangsa ini ke depan: “mereka yang memulai dari diri sendiri, mereka memulai dari hal kecil, dan mereka telah benar-benar melakukannya”.

Suharso Monoarfa, Carolina Kaluku, dan Elnino bersama 32 Guru Pejuang dan Tokoh Desa penerima SuMo Foundation Awards 2010

Pada tahun 2010, kembali digelar pemberian SuMo Award II. Kali itu dianugerahkan kepada 34 orang “Guru Pejuang” dan “Tokoh Desa”. Sedangkan SuMo Award III digelar tahun 2012 yang lalu dan hanya memberikan penghargaan kepada 2 “Guru Pejuang” dan 2 “Tokoh Desa”. Jumlah penerima Anugerah SuMo itu semakin berkurang karena dua faktor ; (a) Medan yang semakin sulit dijangkau untuk mendapatkan tokoh dan guru yang ada di desa terpencil, (b) Informasi tentang guru dan tokoh yang diperoleh panitia belum cukup untuk mendapatkan nama-nama yang layak diberi penghargaan.

Acara puncak Sumo Award selalu menggetarkan relung jiwa kita. Kegiatan ini menggugah kesadaran kita, betapa ada ribuan guru di daerah ini yang telah mempersembahkan diri dan baktinya secara tulus dalam puluhan tahun pengabdiannya.

Sri Utami, misalnya. Guru honorer dengan gaji Rp. 250 ribu perbulan, pada sebuah SD di Wonosari itu bahkan tak mampu membiayai sekolah anaknya sendiri, sehingga putus sekolah di kelas dua SMA. Ada juga Jafar Gilingo yang telah mengabdi 36 tahun sebagai guru honorer di Tolinggula. Serta Burhan Popalo yang merintis dua buah SD di desa Saritani, paling terpencil di Boalemo.

Ada pula Astin Abas, guru satu-satunya di SMP 3 Satu Atap, Popayato Timur, yang merangkap semua jabatan di sekolah itu ; Kepsek, guru kelas 7-8-9 untuk semua mata pelajaran, tata usaha, bahkan penjaga sekolah, padahal dia adalah seorang perempuan.

Di ujung Utara-Barat Gorontalo, berbatasan dengan Sulawesi Tengah, ada seorang pemuda, Nanang Riyadi, yang merintis dan mengembangkan perkebunan sistematis. Perkebunan yang disebutnya sebagai “JAKKSA” (Jagung Kelapa Kakao Sayur-Sayuran) itu kini sedang dilaksanakan oleh ratusan warga di desanya.

Suharso Monoarfa, Idah Syahidah Habibie, dan Winarni Monoarfa mengapit 2 tokoh desa dan 2 guru pejuang penerima SuMo Foundation Awards 2012

Ada juga tokoh yang sangat dikenal oleh seluruh pejuang pembentukan provinsi Gorontalo, Jamaluddin Panna, karena kontribusinya yang tidak kecil terhadap perjuangan 1999-2001. Orang Gorontalo asal Bugis itu membangun koperasi yang menghidupi ribuan anggotanya. Inovasi terhadap pelaksanaan KUT yang dilakukannya membuat koperasi yang dipimpinnya adalah satu dari sembilan koperasi terbaik nasional. Ironisnya, inovasi itu pula yang membuatnya dipenjara karena dianggap menyalahi ketentuan.

Dari Suwawa ada Abdul Wahab Salapa. Pria yang sudah mulai renta itu adalah perintis pembentukan kelompok-kelompok tani di desanya. Dia juga membangun teknik pengairan yang unik untuk mengatasi krisis air di musim kemarau, terutama di lahan yang jauh lebih tinggi dari sumber air. AW Salapa pula yang merintis pasar tradisional di desanya untuk memperpendek rantai pemasaran dan distribusi hasil-hasil pertanian dan perkebunan di sana.

Start typing and press Enter to search