Elnino Sebagai Politisi Senayan

Oleh : La Ode Ida

Sungguh tidak mudah jadi anggota parlemen yang baik dan benar. Di jaman politisi sedang dilanda krisis kepercayaan dari mayoritas rakyat, mungkin hanya segelintir politisi yang berhasil menjaga persepsi publik terhadap dirinya.

Krisis itu terjadi karena dua hal. Pertama, cukup banyak politisi maupun wakil rakyat yang melakukan pelanggaran hukum maupun moral. Kasus-kasus korupsi besar maupun kecil di DPR RI maupun DPRD, misalnya, hampir setiap hari dikonsumsi oleh publik di media cetak, elektronik maupun internet, yang menggiring banyak orang mengambil kesimpulan bahwa politisi tak dapat dipercaya. Publik menjadi apatis pada politik, apalagi politisi. Kedua, para politisi yang baik dan benar justru sangat sedikit yang menjadi berita. Para ‘pejuang politik’ itu tidak sempat terpublikasi dengan baik.

Dalam keadaan semacam ini, tidak banyak anggota parlemen yang berusaha mengabarkan secara periodik kepada konstituennya tentang berbagai hal yang terjadi di lembaga perwakilan tempatnya bertugas mengemban amanat publik. Salah satu dari mereka adalah Senator Elnino Husein Mohi dari Gorontalo. Setiap tahun dia mengedarkan laporan pertanggungjawaban secara tertulis kepada masyarakatnya. Ini adalah salah satu dari political best practices yang sudah biasa dilakukan oleh para politisi di negara-negara maju seperti USA, Jepang, Australia, dll. Uniknya, Senator Elnino dalam buku pertanggungjawabannya tahun ini bahkan menguraikan elemen pengeluaran yang didanai oleh gajinya sebagai anggota DPD RI.

Selain itu, sebagai salah satu pimpinan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, saya melihat Senator Elnino dari Gorontalo merupakan salah satu politisi yang menunjukkan progresivitas personal yang senantiasa mencuat di luar dugaan.

Bukan saja karena namanya mudah diingat, bukan pula karena dia senantiasa tersenyum dan suka menyapa. Saya justru menyimpan kesan tersendiri tentang Elnino, karena ide-idenya yang out of the box, acap kali mencengangkan. Saya tidak heran ketika adik saya ini seringkali diminta jadi pembicara di forum-forum di Senayan, di hadapan para wartawan berbagai media yang berbasis di ibukota. Saya pernah menonton Elnino berbicara di suatu dialog kenegaraan bersama beberapa politikus dan intelektual ternama di negeri ini. Saya tersenyum sejenak, tergelak melihat Senator Elnino—yang bertampang sangat belia walaupun umurnya mendekati empat puluh—mampu melambungkan diri jadi bintang karena ide-ide segarnya, punya argumentasi kuat dengan artikulasi yang empatik dan meyakinkan. Saya tertawa, karena yakin, rekan-rekannya sesama narasumber di forum itu tentu tercengang melihat ada ‘anak kemarin sore’ yang begitu brilian.

Di DPD RI sendiri, Elnino selalu ikut melakukan penetrasi politik yang di luar kewenangan sebagai anggota DPD RI. Dia berani berkomentar di media mengenai kasus Bank Century, tentang reshuffle kabinet, memberi dukungan secara nyata dan politis kepada KPK, menyatakan penolakan secara terbuka terhadap rencana kenaikan harga BBM, dan lain-lain. Tidak banyak senator yang seperti itu; berani dan mau mengambil resiko politik untuk memperjuangkan sesuatu yang diyakininya benar. Saya sering menjadikan Elnino sebagai partner, terutama saat mengambil langkah-langkah politis seperti itu.

Biar begitu, saya melihat ada kelemahan putra Provinsi Gorontalo itu. Dia sering terlalu ekspresif ketika dihadapkan pada sebuah perdebatan. Memang dia masih mampu mengontrol kata-kata yang diucapkannya—maklum, latar belakangnya jurnalis—tetapi bahasa tubuhnya itu lho, seolah menggambarkan bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang penjahat! Tapi saya maklum, Elnino ‘pendatang baru’ di kancah politik Senayan, masih muda pula, sehingga tak heran punya performa yang ‘sangat apa adanya’. Kalau suka, kelihatan dia suka, tapi kalau tak suka, kelihatan pula dia tak suka. Padahal, dalam politik, emosi mesti terkendali dengan baik. Hanya dengan menguasai emosinya, seorang Elnino, saya yakin, bisa menjadi politisi dan pemimpin yang bercahaya bagi banyak orang.

Penulis adalah :
• Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia.
• Pendiri Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA).
• Wakil Ketua Parliamentary Network on the World Bank (PNoWB).
• Doktor Ilmu Sosiologi

Start typing and press Enter to search